Kamis, 12 Februari 2009

Kawah Putih, Bandung Selatan





Liburan tahun baru 2009 kami sekeluarga berjalan-jalan di sekitar Bandung Selatan. Awalnya kami menginap di kota Bandung agar esoknya lebih awal ke wilayah Ciwedy.
Kesokan harinya setelah kami sarapan di Bandung kami meluncur ke daerah selatan kota Bandung menuju daerah Ciwedy. Daerah yang cukup dingin seperti di Puncak. Rencananya kami akan mengunjuki Kawah Putih yang berada di bagian selatan kota Bandung. 
Perjalanan menuju Kawah Putih melalui daerah pegunungan dengan jalan yang berliku-liku. Dikiri kanan jalan banyak orang memanam strawbery.  Setelah membayar beberapa karcis masuk, kami menuju kawah Putih dengan mobil kami sendiri, perjalanan menajak yang tinggi dan sempit serta kelokan membuat sulitnya perjalanan menuju kawah putih.
Sesampainya di Kawah Putih kami temukan pemandangan luar biasa dengan bau belerang yang menyengat serta udara yang sangat dingin. Setelah lelah kami bermain di Kawah Putih kami berencana langsung kembali ke Jakarta. Tapi oleh karena hari sudah gelap, maka kami menginap di Kampoeng Straobery Hotel desa Ciwedy.


Legenda Kawah Putih

Gunung Patuha konon berasal dari nama Pak Tua atau ”Patua”. Masyarakat setempat sering menyebutnya dengan Gunung Sepuh. Dahulu masyarakat setempat menganggap kawasan Gunung Patuha dan Kawah Putih ini sebagai daerah yang angker, tidak seorang pun yang berani menjamah atau menuju ke sana. Konon karena angkernya, burung pun yang terbang melintas di atas kawah akan mati.


Misteri keindahan danau Kawah Putih baru terungkap pada tahun 1837 oleh seorang peneliti botanis Belanda kelahiran Jerman, Dr. Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864) yang melakukan penelitian di kawasan ini. Sebagai seorang ilmuwan, Junghuhn tidak mempercayai begitu saja cerita masyarakat setempat. Saat ia melakukan perjalanan penelitiannya menembus hutan belantara Gunung Patuha, akhirnya ia menemukan sebuah danau kawah yang indah. Sebagaimana halnya sebuah kawah gunung, dari dalam danau keluar semburan aliran lava belerang beserta gas dan baunya yang menusuk hidung. Dari hal tersebut terungkap bahwa kandungan belerang yang sangat tinggi itulah yang menyebabkan burung enggan untuk terbang melintas di atas permukaan danau Kawah Putih. 


Karena kandungan belerang di danau kawah tersebut sangat tinggi, pada zaman pemerintahan Belanda sempat dibangun pabrik belerang dengan nama Zwavel OntginingKawah Putih’. Kemudian pada zaman Jepang, usaha tersebut dilanjutkan dengan nama Kawah Putih Kenzanka Gokoya Ciwidey yang langsung berada di bawah penguasaan militer Jepang.


Di sekitar kawasan Kawah Putih terdapat beberapa makam leluhur, antara lain makam Eyang Jaga Satru, Eyang Rongga Sadena, Eyang Camat, Eyang Ngabai, Eyang Barabak, Eyang Baskom, dan Eyang Jambrong. Salah satu puncak Gunung Patuha yakni Puncak Kapuk, konon merupakan tempat pertemuan para leluhur yang dipimpin oleh Eyang Jaga Satru. Konon, di tempat ini terkadang secara gaib terlihat sekumpulan domba berbulu putih yang oleh masyarakat disebut domba lukutan.


Danau Kawah Putih memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Air di danau kawahnya  dapat berubah warna, kadangkala berwarna hijau apel kebiru-biruan bila terik matahari dan cuaca terang, terkadang pula berwarna coklat susu. Paling sering terlihat airnya berwarna putih disertai kabut tebal di atas permukaan kawah. Selain permukaan kawah yang berwarna putih, pasir dan bebatuan di sekitarnya pun didominasi warna putih, oleh karena itu kawah tersebut dinamakan Kawah Putih.

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...